Jakarta – Kualitas dan kuantitas produk tekstil tradisional Indonesia tak bisa dianggap enteng. Dunia jelas mengakui keberadaannya. Tak terkecuali kain tenun bentenan. Sayangnya, kini keberadaan kain kebanggaan Minahasa itu hanya tersisa dalam hitungan jari. Di antaranya satu lembar ada di Museum Nasional Indonesia, satu lagi di Museum Furvolkerunde, Jerman; serta tiga lainnya berada di Royal Tropical Institute Museum Amsterdam, Belanda.
Masuknya pengaruh Barat dan modernisasi masyarakat Minahasa ternyata menyebabkan keberadaan kain bentenan mulai terlupakan. Bahkan, terakhir kali kain ini diproduksi tahun 1880 oleh kalangan Minahasa yang tinggal di daerah pesisir selatan Minahasa.
Kondisi ini diamini Yessy Wenas, yang dikenal sebagai pemangku adat Minahasa di Jakarta. Dituturkannya, terakhir kain tenun bentenan dibawa tahun 1885 oleh seorang pendeta Protestan Zending (misionaris Kristen) asal Belanda bernama Brower dari Tomohon Manado ke Batavia.
"Orang Minahasa itu mudah sekali menyerap budaya baru. Sejak 1800-an, orang Minahasa mulai mengikuti budaya Barat yang dibawa Belanda seperti jadi kapten kapal, pilot dan sebagainya," keluh Wenas menyoal perubahan sosio-kultural masyarakat Minahasa kepada SH, di Jakarta, pekan lalu.
Ia juga menceritakan, proses pembuatan kain tenun berbahan dasar kapas dengan motif cerah ini juga tak biasa. Sebelum ditenun, biasanya penenun kain ini menyanyikan lagu Ruata yang sisinya adalah permintaan atau doa kepada Yang Kuasa untuk membantu menjadikan tenunan ini. Saking khususnya, bentenan dahulu kala juga diperuntukkan bagi tetua adat dan kepala-kepala upacara keagamaan yang disebut ”Walian dan Tonaas”.
Setelah lama menghilang, kain ini muncul dari tidur lamanya pekan lalu. Ihwalnya adalah prosesi pertunangan adat Minahasa (Sulawesi Utara) yang dikenal sebagai ritual “maso minta/mehe roko” antara keluarga Ludwig Suparmo untuk meminang Ciska Catharina Lumbuun—putri sulung pakar Hukum Administrasi Negara Universitas Indonesia (UI) yang juga Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR Prof Dr T Gayus Lumbuun, SH, MH.

Maskawin
Kehadiran kain “sakral” ini bukan sekadar pelengkap acara. Kedua pasang orang tua calon mempelai sepakat menjadikan kain bentenan sebagai maskawin. Kain tenun berukuran sekitar 1,67 cm dan lebar 82 cm ini menggenapi segepok surat kepemilikan sawah, kebun kelapa, 12 ekor sapi, 7 ekor kuda penarik dan 3 ekor kuda pacu yang dipersembahkan calon mempelai pria kepada wanita yang dipinangnya dan keluarga.
Sebelum kain ditunjukkan, tari-tarian digelar oleh 10 gadis cantik sambil menyerahkan hantaran untuk calon mempelai wanita. Mereka membawa padi dan umbi-umbian sebagai perlambang kesuburan, buah-buahan perlambang hasil keringat sang pria, ikan bakar sebagai simbol kekuatan dan kehidupan serta kue yang kemudian dimakan bersama. Bawaan ini dilengkapi dengan alat make-up, pakaian wanita, selop, dan pohon cokelat emas pertanda rumah tangga yang rukun dan sejahtera.
Jenis kain bentenan yang diserahkan di acara ini sendiri bermotif Kaiwu Patola dan berwarna asli cokelat tanah, sedang bentuknya disebut Pasolongan Rinegetan (berbentuk bulatan dan tanpa jahitan) dengan hiasan bel tergantung di kain tersebut.
Tampilnya bentenan ini tak lepas dari kegigihan Joan Henuhili-Raturandang, wedding organizer acara itu yang mencari tahu keberadaan kain ini. Menurutnya, tradisi memberikan kain tenun bentenan sebagai maskawin merupakan upaya menggali lagi tradisi Minahasa yang kini hampir punah. Hal sama diungkapkan Yessi Wenas yang menjadi pimpinan upacara adat ini.
"Inilah kesempatan kami mengangkat kembali budaya Minahasa yang sudah jarang digunakan. Kami salut dan menyambut baik niat keluarga Gayus Lumbuun untuk menggunakan upacara adat Minahasa," tuturnya.
Kini, kalangan Minahasa yang peduli keberadaan salah satu kekayaan adat tradisional memang mencoba mereproduksinya di Jawa Tengah dan Minahasa. Namun, untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, bentenan dibuat lebih bercorak terang dan ceria. Ke depan, kemunculannya pasti bukan hanya sebagai ajang “kagetan”, terlebih hanya jadi sekadar alat pameran. Bentenan memang layak dilestarikan.
(rikando somba)

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0610/02/hib02.html

fandhiee wrote on Jan 7
Duh gw yang asli minahasa juga baru tau ada kain bentenan hehehe....
jaztia2007 wrote on Jan 7
hahaha...masa so...skarang di Manado setiap hari kamis di pemprov...dinas..pake kaeng bentenan........jadi dp warna2 beda2 sesuai dengan dinas masing2.......hehehe..emang sekarang dimana?
fandhiee wrote on Jan 7
oh iyo??
adoo kita skrg di jkt kwa kong jarang skali pulang kasiang :P
jadi malo tree....
dfschmaal wrote on Jan 8
kita jg baru tahu dari internet *kasiang*
kumpulrebo wrote on Mar 10
sayang, tak ada gambar tenunan tersebut.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help